Begini Makna Filosofis Tradisi Endhog Warga Banyuwangi

Ikawangi Malang Raya menggelar tradisi Endhog-Endhogan di Car Free Day (CFD), Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu 24 November 2019. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Ikawangi Malang Raya menggelar tradisi Endhog-Endhogan di Car Free Day (CFD), Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu 24 November 2019. Foto: Medcom.id/Daviq Umar
Malang: Ratusan warga Banyuwangi, Jawa Timur, yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Malang Raya menggelar tradisi Endhog-Endhogan di Car Free Day (CFD), Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu, 24 November 2019. Tradisi ini dihelat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Koordinator acara, Abdul Basit, mengatakan tradisi Endhog-Endhogan selalu dirayakan oleh masyarakat Banyuwangi saat maulud Nabi Muhammad SAW. Endhog-endhogan berasal dari kata endhog yang dalam bahasa Indonesia berarti telur. 

"Dalam tradisi ini, telur dihiasi sebagus mungkin kemudian ditusuk atau diikatkan pada tusuk yang terbuat dari bambu," katanya.

Telur-telur yang telah dihias tersebut kemudian ditancapkan pada pohon pisang. Pohon pisang yang ditancapkan telur juga dihiasi sebagus mungkin. 

"Sebelum diarak mengitari kampung, warga membaca salawatan. Orang Banyuwangi menyebutnya Srakalan atau Srokalan," bebernya.

Setelah diarak, telur-telur tersebut kemudian dibagikan ke anak-anak kecil di masjid. Basit mengatakan hal itu untuk memperkenalkan tradisi warga Banyuwangi kepada khalayak luas

"Ada kandungan makna filosofis dari tradisi itu. Setiap kelahiran dilambangkan dengan telur. Telur itu memiliki tiga lapis. Yakni lapis kulit, putih, terus kuning telur. Itu melambangkan Islam, iman, dan kuningnya adalah ikhsan," ujar dosen di Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut.

Dalam tradisi masyarakat Banyuwangi, makna filosofis itu ditanamkan sejak anak-anak. Itulah sebabnya telur dibagikan kepada anak-anak.

"Islam, iman dan ikhsan itu harus jadi satu. Lalu telur itu sebetulnya harus ditusuk. Tapi karena kalau ditusuk cepat basi, makannya saat ini banyak yang dibungkus. Sedangkan hiasanya bermakna menjadi hiasan kehidupan," ungkapnya.

Basit menegaskan perayaan tradisi Endhog-Endhogan oleh warga Banyuwangi di tanah rantau sebagai bentuk untuk merawat tradisi. Ada ratusan anggota Ikawangi Malang Raya di Kota Malang. Mereka terkadang tidak bisa pulang ke kampung halaman untuk merayakan tradisi.

"Jadi dengan acara seperti inilah kita bisa menguri-nguri budaya. Kami juga punya harapan agar masyarakat luas, khususnya Kota Malang, bisa mengenal tradisi khas Banyuwangi," tandasnya. 


(IDM)

Berita Terkait